Categories
Berita

Abu Sayyaf Membuat Utusan Terbaik

dia bergabung dengan Abu Sayyaf. Jadi dia junior saya. Ditambah lagi ada Jim Dragon di sana. Saya kenal cukup dekat dengan Jim. Dia salah satu yang paling senior dan dituakan di faksi tersebut karena anak buahnya kebanyakan anak muda. Kemarin, saat beberapa utusan datang ke sini, saya beri tahu celahnya untuk mendekati mereka. Seperti apa celahnya? Al-Habsi Misaya itu berasal dari Parang, satu kampung dengan istri ketiga Nur Misuari (pemimpin MNLF).

Jadi mereka dekat. Saya kasih masukan agar memanfaatkan celah itu, dekati istri ketiga Nur Misuari. Apakah saran Anda dijalankan? Kalau saya lihat alur cerita pembebasan, sepertinya dijalankan, karena lokasi pembebasannya di Parang. Seperti apa karakter faksi tersebut? Orientasi mereka hanya untuk meminta uang tebusan, jadi tidak akan melukai atau bertindak sadistis, kecuali kalau ada yang mencoba melarikan diri. Tapi tampaknya para sandera juga tak berani melarikan diri karena medannya sulit.

Sewaktu berlatih kemiliteran di Filipina, saya sempat melihat kelompok mereka memperlakukan sandera, mereka tidak sadistis. Bahkan biasanya sandera makan apa yang mereka makan. Faksi ini memang jago mengambil orang dari tengah laut. Waktu itu pernah saya lihat mereka menculik warga Amerika Serikat dari Pulau Sipadan, Malaysia, untuk dibawa ke Sulu. Base camp mereka di Sulu karena kondisi geografis yang luas cocok untuk latihan militer.

Mengapa Anda ”berjihad” di Filipina? Untuk membantu perjuangan mereka merebut kembali tanah airnya yang diambil negara Filipina. Latar belakang masalah di Filipina sejarahnya mirip seperti di Palestina. Saya selalu ingin ”berjihad” di Palestina. Saya mulai di Filipina pada 1992, setahun setelah dari Afganistan. Di sana saya bergabung dengan mujahidin Abu Sayyaf. Saya ”berjihad”, selain karena kesadaran, ingin mematuhi Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pembukaannya ditulis bahwa penjajahan di muka dunia harus dihapuskan. Itu yang menjadi dasar saya ”berjihad”.

Setelah lima tahun dibina, apakah pola pikir Anda berubah? Kalau pola pikir terkait dengan kepercayaan saya, tidak ada. Saya begini kan melalui proses panjang, hasil membaca dan ”berjihad” langsung di luar negeri, dan saya masih mempercayai apa yang saya lakukan benar, kecuali saat Bom Bali I. Saya menyesal terlibat dalam Bom Bali karena banyak korban orang Hindu, Buddha, bahkan orang Islam. Kalau sudah begitu, siapa yang akan mempertanggungjawabkan di akhirat nanti? Di sini saya sering memikirkan pertanggungjawabannya nanti.

Anda selalu bilang tak setuju dengan Bom Bali I, tapi mengapa akhirnya tetap ikut serta? Saat saya masuk, rencana ini sudah jalan 90 persen. Jadi, ada saya atau tidak, Bom Bali I tetap akan dilakukan. Keberatan saya ini juga sempat saya utarakan kepada kawan-kawan karena menurut saya aksi bom bunuh diri seperti itu pengecut. Motivasi mereka mengebom untuk membalas dendam karena pembantaian kaum muslimin di Palestina. Saya bilang, kalau mau balas dendam, seharusnya datang ke Palestina dan mengebom di sana.

Keberatan Anda itu tidak didengar? Iya, mereka terus dengan rencananya dan saya mau tak mau ikut karena saat itu saya menghormati Mukhlas dan Dulmatin. Mereka senior saya yang banyak membantu. Menurut saya, saat itu lebih baik menembak langsung mereka yang menjadi target sehingga korban tidak meluas. Itu usul saya dari segi teknis, terlepas dari saya tidak setuju dengan kegiatan ini. Apa peran Hambali dalam Bom Bali I? Benarkah dia ikut merencanakan dan mendanai peledakan bom yang menewaskan 202 orang itu? (Encep Nurjaman alias Hambali atau Riduan Isamuddin, 52 tahun,

Website : kota-bunga.net

Categories
Berita

JANGAN ’BERJIHAD’ DI INDONESIA

Umar pernah menjadi buron paling dicari oleh pemerintah Amerika Serikat dan Filipina. Bahkan Amerika menawarkan hadiah US$ 1 juta bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya. Ia akhirnya di tangkap aparat keamanan Pakistan di Abbottabad pada 25 Januari 2011 dan diekstradisi ke Indonesia pada 11 Agustus 2011.

Umar dihukum 20 tahun penjara setelah terbukti terlibat dalam Bom Bali I. Ia ikut merakit bom yang digunakan Imam Samudra dan kawan-kawan untuk meledakkan Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, pada 12 Oktober 2002 itu. Umar telah menjalani masa hukumannya selama lima tahun, tapi ia mengakui pola pikirnya tidak berubah. Ia masih mempercayai apa yang ia lakukan benar, kecuali saat Bom Bali I. ”Saya begini kan melalui proses panjang, hasil membaca dan ’berjihad’ langsung di luar negeri,” kata Umar.

Ditemani Kepala Lembaga Pemasyarakatan Prasetyo dan beberapa anggota stafnya, wartawan Tempo Tika Primandari, Nur Hadi, dan fotografer Dian Triyuli Handoko menemui Umar. Dengan sorot mata yang masih tajam dan diselingi senda-gurau, Umar menceritakan ihwal strategi pembebasan sandera yang ia tawarkan kepada pemerintah, alasannya ”berjihad”, hingga pandangannya tentang ideologi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Anda diminta melobi kelompok Abu Sayyaf untuk membebaskan warga Indonesia yang disandera kelompok itu? Bukan, saya tidak diminta, tapi saya yang menawarkan diri karena saya kenal dan memahami mereka berdasarkan kedekatan kami. Saya ingin mencoba melobi mereka agar para sandera dibebaskan. Saya yakin bisa membantu melobi karena tahu persis karakter dan sifat mereka. Adapun namanya tawaran, terserah mau diterima atau ditolak, kan? Kabarnya, Anda minta pemotongan hukuman sampai sepuluh tahun sebagai imbalan karena membantu melobi? Sama sekali tidak, itu fitnah.

Saya ingin membantu karena prihatin sebagai sesama saudara warga Indonesia. Semuanya murni, tanpa syarat apa pun. Sepertinya yang menuduh saya minta dipotong hukumannya tak pernah datang ke sini. Beberapa kali utusan dari pemerintah datang untuk bertanya tentang faksi Abu Sayyaf. Tapi saya paham mengapa sampai ada fitnah begitu. (Umar Patek menjelaskan tapi meminta untuk tidak dikutip.) Sedekat apa Anda dengan faksi yang kemarin menyandera warga Indonesia? Saya bergabung dengan Abu Sayyaf ketika Al-Habsi Misaya (pemimpin faksi) masih bergabung dengan Moro National Liberation Front (MNLF). Setahun kemudian, baru