Categories
Parenting

Kenapa si Kecil Menangis Bag3

Tapi kalau tetap rewel menangis, berarti dia mengantuk, saya ajak ke kamar, dikelonin di tempat tidur, deh,” cerita Mama Kie Yukii NaPrast yang memiliki empat anak. “Yang pertama kali saya cek adalah popoknya. Seandainya popoknya tidak basah, berarti dia haus, baru saya beri ASI.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman

Tapi, seandainya dia masih gelisah dan terus menangis, mungkin ada yang tidak nyaman dari tubuhnya, biasanya saya mengecek sekitar perut atau belahan di kaki dan tangannya, apakah ada lecet,” papar Mama Tresna Edya Ananda. “Kalau menangisnya karena sudah mengantuk, ya, langsung dikelonin dan minum ASI. Kalau dia nangis karena bosen, paling diajak jalan-jalan keluar rumah. Kalau masih rewel, coba cek celananya, biasanya dia pup,” jelas Mama Widya Widyana. “TOLONG AKU!” Sayangnya, tak semua Mama langsung merespons tangisan bayinya. Ada, lo, orangtua yang sengaja menunda untuk merespons tangisan bayi, karena menganggap bayi menangis untuk melatih pernapasan atau khawatir jika terlalu sering digendong akan “bau tangan” dan manja.

Bahkan, ada teori yang berbunyi, membiarkan bayi menangis akan membuat si bayi cakap menenangkan diri sendiri dan bisa berlatih tidur tanpa harus ditemani/disusui. Padahal, seperti dijelaskan dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, tangisan bayi bukan bertujuan melatih otot pernapasan dan jantungparu, bukan juga untuk memanipulasi orang dewasa supaya mengikuti kemauannya. Tangisan bayi adalah ungkapan permintaan yang artinya: ”Tolong aku!” Tangisan bayi adalah bagian dari program “mencari bantuan” saat ia merasakan sensasi tidak menyenangkan, baik secara fisik (lapar, sakit, lelah, dingin, dan lain-lain) maupun emosi (takut, marah, sedih, tidak nyaman, dan lainnya).

“Nah, bayi belum memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut secara mandiri, karena fungsi otaknya belum sempurna,” ujar Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) ini. Saat dilahirkan, kondisi otak bayi belum cukup matang untuk menghadapi berbagai rangsangan di sekelilingnya. Cahaya terlalu terang, suara terlampau berisik, suhu ruang terlalu dingin, perubahanperubahan yang mendadak, bahkan antusiasme orang dewasa menimang dan mengajaknya bermain, bisa diartikan sebagai stimulasi yang berlebihan.

Sumber : https://ausbildung.co.id/